Senin, 30 April 2012

PERAN PEMUDA dalam MEMBANGUN PERADABAN ISLAM


BAB ll
PEMBAHASAN
2.1.      Landasan Teori
2.1.1.   A. Pengertian Pemuda Dalam Peradaban Islam
Pemuda adalah seseorang yang umurnya di bawah 25 tahun, namu dia memiliki kehebatan sendiri, menurut Dr. Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat bila dibanding dengan anak kecil atau orang-orang jompo.Pemuda mempunyai potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit. Sejarah pun juga membuktikan bahwa pemuda berperan penting dalam kemerdekaan. Dimana saja, di negara mana saja kemerdekaan tak pernah luput dari peran pemuda. Karena pemudalah yang paling bersemangat dan ambisius memperjuangkan perubahan menuju lebih baik. Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, "Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya. "Begitu juga dalam sejarah Islam, banyak pemuda yang mendampingi Rasulullah dalam berjuangan sperti Mushaib bin Umair, Ali bin Abi tholib, Aisyah dan lain-lain.
.Waktu itu banyak yang masih berusia 10 atau 12 tahun. Dan usia-usia itu tidak dapat diremehkan. Mereka punya peran penting dalam perjuangan. Maka dari itu jika ingin Indonesia menjadi lebih baik maka perbaikan itu yang utama ada di tangan pemuda, Perbaikan itu akan tegak dari tangan pemuda dan dari pemuda. Pemuda mempunyai banyak potensi. Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan yang terjadi adalah sebaliknya. Potensinya tak tergali, semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik misalnya tawuran dan lain-lain.
2.1.2.    Bercita-cita Tinggi
Mana mungkin kita sebagai pemuda bisa maju jika bermimpi saja tidak berani. bermimipi Impian adalah cita-cita maka beranilah,impian akan menimbulkan niat, niat akan menimbulkan sikap,sikap akan menimbulkan usaha untuk mewujudkan cita-cita,dan impian juga akan menimbulkan semangat, semangat ibarat api yang akan memicu ledakan potensi yang luar biasa. Maka marilah kita miliki impian.
Niat saja tidak berani bagamana bisa berbuat. Niat saja mulai sekarang, tapi yang baik-baik. Sabda Nabi, "segala sesuatu itu tergantung niatnya. Pemuda harus punya niat. Niat menumbuhkan kesungguhan dalam beramal, keseriusan dalam berfikir serta keteguhan dalam menghadapi penghalang. Niat yang sempurna adalah niat karena Allah dengan landasan iman. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist dari Umar bin Khatab bahwa barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, barang siapa berhijrah untuk dunia yang ia cari atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya untuk yang ia niatkan. Dengan niat karena Allah kita akan mendapat ridho-Nya Insya Allah.
2.1.3.   Andalkan Diri Sendiri
Pemuda yang hebat bukan pemuda yang berkata,"Ayah ku polisi, ayahku kaya. Bukan seperti itu, tapi pemuda yang hebat dan berjiwa besar adalah pemuda yang berkata,"inilah saya, dengan segala kekurangan. Pemuda yang hebat adalah pemuda yang tidak menyombongkan prestasi ayahnya, pamannya, ibunya atau lain-lain. Mereka sadar, andaikata ayah mereka polisi mereka sadar yang polisi kan ayah bukan saya, kalau ayah mereka pejabat yang berprestasi mereka sadar itu prestasi ayah buka saya, saya harus ciptakan prestasi sendiri.
Jadilah mereka pemuda yang mandiri, dengan kemandirian itu ia terpacu untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun kecuali Allah, ia menjadi yang tangguh, ia berusaha memacu dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari sampai akhirnya ia bisa merubah lingkungannya. Ia menjadi pemuda yang percaya diri.
Merubah diri sendiri dengan mengendalikan hawa nafsu, mencari ilmu, memperbaiki ibadah. Berani mencoba untuk sebuah kemenangan tanpa takut gagal. Ingatlah bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Thomas alfa Edison berhasil menemukan bola lampu pada percobaan ke 14.000, berarti dia telah gagal dalam 13.999 percobaan, tapi dia tidak menyerah. Berani memulai. Memulai adalah hal yang sulit kata sebagian orang, setelah itu akan berjalan lancar. Maka kita harus berani memulai, walaupun sulit, Insya Allah berikutnya berhasil, mulai dari sekarang dan mulai dari diri sendiri.
Di sudut ego yang tajam, manusia merasakan keasyikan dalam tantangan dan persaingan, dan hidup ini memang kompetisi. Ia berjalan dalam batas antara kehidupan dan kematian. Diantara dua titik itu, berlaku sebuah titik waktu, untuk menguji optimalisasi potensi, siapa diantara kita yang terbaik dalam karya.
 Allah berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya menguji kamu, siapa diantara kamu yag terbaik amalnya. Dan Dia maha perkasa lagi maha pengampun. (Al Mulk. 2)
Kita hidup di hari ini, tak hanya ingin menjalin kompetisi di antara kita sendiri.kita punya kompetitor-kompetitor yang telah mendahului. Ibrah dan teladan dari kisah pengorbanan terdahulu ummat ini menjadi tantangan penyemangat bagi seorang mukmin yang menunggu-nunggu untuk memenuhi janji syahadahnya. Allah berfirman: Diantara orang-orang mukmin itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah .Maka diantara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tiada merubah janjinya. (Al Ahzab. 23)
Hidup ini adalah kompetisi, dan syahadah itulah yang telah menegaskan karunia hidayah bagi kita, adalah tanda keikutsertaan yang di berikan oleh penguasa, yaitu Allah. Maka ada manusia bodoh yang harus kita junjukkan jalan, karena mereka semangat tanpa tanda syahdah di dadanya. Dan kitapun kadang menjadi manusia bodoh lain yang harus di tegur, terkadang lebih suka duduk-duduk di garis start, merasa cukup dengan status keislaman itu.
Umar tak hanya mengutuk ke tidak adilan, dia juga memecat khalid, ketika terasa ada sesuatu mulai tak beres di dada para prajurit. Tetapi dia juga menangis ketika khalid meninggal, dan umar juga tidak mengijinkan para panglima mengelola tanah sekaligus membangun kota-kota meliter di bashrah, kufah, dan fustat, agar semangat ekspensif mereka tak tumpul. Tapi ia juga berharap perbukitan di Khurasan menghalangi kaum muslimin dari musuh, dan menghalangi musuh dari kaum muslimin. Karena baginya, nyawa seorang mukmin begitu berharga untuk membangun dunia yang beradab. Ada penjagaan nilai Ilahi, nilai perjuangan, ekaligus nilai ke manusiaan dalam tiap kebijakan yang dibuatnya. Umar mengatakan dalam pidatonya saat dia diangkat. Aku bukanlah orang terbaik diantara kalian. Jika aku benar, maka dukung dan bantulah aku dalam mengemban amanah ini. Jika aku salah, maka jangan ragu untuk meluruskan. Allah berfirman. Tetapi hendaklah kalian menjadi orang-oarang Rabbani, disebabkan kalian terus mengajarkan Al kitab, dan kalian senantiasa mempelajarinya. (Ali ‘Imran. 79).
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia mati atau terbunuh maka kalian akan berbalik ke belakang...?” (Ali ‘Imram. 144)
            Betapa ayat ini menegaskan jauhnya da’wah dari kultus individu. Da’wah tidak boleh terputus oleh hilangnya seorang pemimpin. proses kaderisasi harus di perkuat. Elemen kaderisasi harus menjadi penopang da’wah yang akan melahirkan kesatria-kesatria yang segar darahnya, kuat tulangnya, kekar otonya sakaligus tajam ruh dan fikirannya untuk membawa bendera tauhid.
2.1.4.   Memiliki Keberanian
Seorang muslim jangan pernah merasa takut, kecuali hanya kepada Allah. Kita jangan kalah semangat dengan salah seorang prajurit perang salib yang berkata lantang kepada ibunya ketika ia hendak menghancurkan Islam. "Ibu…tenangkan hatimu, berbahagialah, anakmu pergi ke Tripoli siap mengalirkan darah demi melumatkan bangsa yang terkutuk. Dengan segala kekuatan yang aku miliki akan aku lenyapkan Islam. Akan aku bakar al-Quran" (al-Qoumiyyah wal Ghozwul Fikriy, hlm. 208).
Prajurit Perang Salib saja yang jelas-jelas di jalur yang salah punya keberanian seperti itu. Kita, pemuda Islam harus bisa lebih dari keberanian orang-orang kafir. Sebab kita di jalur yang benar dalam pandangan Allah Swt. Para sahabat yang mulia adalah sosok yang layak untuk dijadikan teladan bagi kita dalam mencontoh keberaniannya.
Ada satu peristiwa yang sangat menarik untuk direnungkan para pemuda jaman kiwari. Peristiwa ini selengkapnya diceritakan oleh Abdurrahman bin 'Auf: "Selagi aku berdiri di dalam barisan perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiri, saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat dari padanya. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka menekanku seraya berkata: 'Hai Paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal?' Aku jawab: 'Ya, apakah keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?' Dia menjawab: 'Ada seorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah SAW. Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak akan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati, antara aku atau dia!' Berkata Abdurrahman bin 'Auf: 'Aku merasa heran ketika mendengar ucapan anak muda itu'. Kemudian anak yang satunya pun menekanku dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang, aku pun melihat Abu Jahal sedang mondar-mandir di dalam barisannya, segera aku katakan (kepada kedua anak muda itu): 'Itulah orang yang sedang kalian cari!' Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah  SAW. (dengan rasa bangga) untuk melaporkan kejadian itu. Rasulullah  SAW. Berkata: 'Siapa di antara kalian yang menewaskannya?' Masing-masing menjawab: 'Sayalah yang membunuhnya'. Lalu Rasulullah bertanya lagi: 'Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?' 'Belum' jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: 'Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal boleh dimiliki Muadz bin al-Jamuh." Berkata perawi hadist. Kedua pemuda itu adalah Mu'adz bin "Afra" dan Muadz bin Amru bin al-Jamuh (Musnad Imam Ahmad I/193. Shahih Bukhari  dan Shahih Muslim. Pemuda seperti inilah yang bakal menjadi pembela dan pejuang Islam yang tangguh. Selain semangat, tentunya wajib memiliki keberanian.
Dalam membangun peradaban islam harus berani berkorban, apapun jenis pengorbanan yang harus di berikan untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Bisa berupa waktu, harta, tenaga, bahkan nyawa. Semuanya harus rela di korbankan. Sebab, kita yakin hal itu bukanlah kesia-siaan. Firman Allah SWT. "Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan merekalah orang-orang yang memperoleh berbagai kebaikan dan merekalah orang-orang yang beruntung."  (At Taubah [9]: 88).Kita harus menjadi pemuda pejuang Islam. Untuk itu kita harus punya keberanian dan rela berkorban. Supaya perjuangan ini lebih punya makna. Rasanya memang janggal kalau kita berjuang, terus ingin berhasil, tetapi sedikitpun tidak berani dan tidak  mau untuk berkorban. Sangat aneh sekali, kalau ada orang yang ingin menang dan sukses, tapi dirinya tidak berani menghadapi rintangan dan  tidak mau berkorban. Rasanya memang tidak ada dalam kehidupan yang nyata. Apalagi dalam urusan hidup dan mati untuk tegaknya Islam ini, jelas diperlukan keberanian dan sikap rela berkorban yang tinggi. Masak kita kalah sama mereka yang cuma berjuang untuk yang sebetulnya tidak perlu bagi sebuah kemajuan bangsa. Kita insya Allah akan menjadi pembela dan  pembangun peradaban, yang akan menentukan masa depan Islam. Rasanya pantas bila memiliki sikap rela berkorban yang tinggi. Untuk mengalahkan segala hambatan. Firman Allah SWT. "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Al Fusshilat. [41]: 30)
2.1.5.   Cerdas Dan Bartaqwa
Imam Asy-Syafii mengatakan bahwa: "Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan). " Sabda Rasulullah SAW. "Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar." (HR. Bukhari). Untuk menjadi pemuda pejuang Islam, kita harus menyiapkan mental dan juga ilmu. Keberanian dan rela berkorban harus ditunjang dengan ilmu dan ketakwaan. Rasa optimis perlu juga dimiliki. David J. Schwartz mengatakan, bahwa ujian bagi seseorang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan saat masalah itu terjadi.
Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara untuk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yang tua-tua.
Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang muda remaja dan cerdas menjadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum. Setelah itu, beliau turun dari mimbar dan masuk ke rumahnya. Kaum muslimin pun beradatangan hendak berangkat bersama pasukan Usamah. Mereka menemui Rasulullah yang saat itu dalam keadaan sakit. Diantara mereka terdapat Ummu Aiman, ibu Usamah. “Wahai Rasulullah bukankah lebih baik, jika engkau biarkan Usamah menunggu sebentar di perkemahannya sampai engkau merasa sehat. Jika dipaksa berangkat sekarang, tentu dia tidak akan merasa tenang dalam perjalanannya, ujarnya. Namun Rasulullah SWT. menjawab, ‘Biarkan Usamah berangkat sekarang juga. Kata Usamah, Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak, setelah saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tidak berkata apapun karena kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku. Ketika Usamah mencium wajahnya, beliau tidak mengatakan apa-apa, selain mengangkat kedua tanganya ke langit serta mengusap kepala Usamah, mendoakannya.
Usamah segera kembali ke pasukannya yang masih menunggu. Setelah semuanya lengkap, mereka mulai bergerak. Belum jauh pasukan itu meninggalkan Juraf, tempat markas perkemahan, datanglah utusan dari Ummu Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah SAW. Telah wafat. Usamah segera memberhentikan pasukannya. Bersama Umar bin Khatthab dan Abu Ubaidah bin Jarraf, ia segera menuju rumah Rasulullah. Sementara itu, tentara kaum muslimin yang bermarkas di Juraf membatalkan pemberangkatan dan kembali juga ke madinah. Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik menjadi khalifah. Khalifah Abu Bakar meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah. Tetapi, sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar. Abu Bakar segera memanggil Usamah untuk kembali memimpin pasukan, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah sebelumnya. Tindakan Khalifah tentu saja mendapat reaksi dari beberapa sahabat. Apalagi saat itu beberapa kelompok kaum muslimin murtad dari agama Islam. Kota Madinah memerlukan penjagaan ketat. Kata mereka, “Jika khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya, kami mengusulkan panglima pasukan (Usamah) yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.”
Mendengar ucapan Umar yang menyampaikan usul dari kaum Anshar itu, Abu Bakar bangun menghampiri Umar seraya berkata dengan marah, “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan keputusan Rasululllah. Demi Allah, tidak ada cara begitu!” Abu Bakar juga berkata, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya aku tahu akan dimakan binatang buas sekalipun, niscaya aku akan tetap mengutus pasukan ini ketujuannya. Aku yakin, mereka akan kembali dengan selamat. Bukankah Rasulullah SAW. Telah bersabda, Berangkatkan segera pasukan Usamah...! Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan khalifah tentang usulnya. Kata Umar, “Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, belaiu menolak dan malahan saya kena marah. Saya dikatakan sok berani membatalkan keputusan Rasulullah. Maka, pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja itu. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kendaraan. Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. “Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu. Kemudian dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah. Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.
Usamah dan pasukannya terus bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah. Setelah melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits. Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap. Ia mengusulkan agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan cepat mereka bergerak. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya. Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun. Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga, orang mengatakan, belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.
2.1.6.   B. Pengertian Peradaban Islam
          Peradaban islam adalah manifestasi iman dalam semua asfek kehidupan. Istilah peradaban telah banyak kita gunakan, tetapi apakah arti peradaban itu? Jika makna peradaban ini kita tanyakan kepada para akademisi di Indonesia, mungkin tidak akan pernah dapat jawaban yang memuaskan, kecuali sekedar rabaan dengan kata-kata bahwa peradaban itu lebih luas ketimbang kebudayaan. Sebuah jawaban, yang secara epistemik, tidak menjawab apapun. Begitu juga sekiranya hal ini kita tanyakan pada para ilmuan asing, yang memiliki back ground epistimologi sekuler, tentu jawabannya juga tidak signifikan karena nilai-nilai kehidupan sekularisme justru bertentangan dengan islam. Apa yang di pandang substansialdalam islam justru disikapi sebagai sesuatu yang tidak berarti, begitu juga sebaliknya. Meskipun demikian kita perlu mengetahui tentang bagaimana cara mereka mendefinisikan peradaban, tanpa harus kita mengikutinya. Dan sebaliknya, penting bagi kita untuk memahami bagaimana mereka tergagap dalam memberikan definisi tentang sesuatu yang di sebut peradaban tersebut.
            Meskipun terdapat sejumlah metodologi dan perspektif yang di berikan oleh sejumlah ilmuan barat tentang peradaban, tetapi inti dalam pandangan itu sebagaimana dinyatakan oleh Samoel Huntington memiliki sejumlah persamaan. Pertama,sebuah perbedaan dapat ditemukan di antara berbagai peradaban, baik yang singular maupun plural. Ide tentang peradaban di kembangkan oleh pemikir Prancis abad XVIII, yang memperlawankannya dengan konsep “barbarisme”. Masyarakat yang telah berperadaban di bedakan dari msyarakat primitif. Masyarakat beradab adalah masyarakat urban, hidup menetabp dan terpelajar. Beradab adalah baik, dan sebaliknya tidak berperadaban adalah buruk. Tetapi anggapan harus di teliti dalam sebuah sudut pandang dan tidak berlaku bagi sudut pandang yang lain. Karena masyarakat yang dianggap berbarisme atau masyarakat tidak beradab, jika di lihat dalam substansi keyakinan masyarakat tersebut maka jelas mereka adalah masyarakat beradab. Di sinilah penting untuk disimak pernyataan Al Qur’an, sebenarnya norma dan nilai-nilai apakah  yang sesungguhnya yang lebih baikuntuk di ikuti, terutama bagi mereka orang-orang muslim, yang kini benar-benar di hadapkan pada suatu paradoks nilai-nilai dan hukum, karena begitu dominannya pranata jahiliyah modern.
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”(Al Maidah,5: 50).
            Konsep peradaban menyajikan sebuah tolak ukur yang dapat di jadikan acuan dalam memberikan penilaian terhadap perbagai dinamika kehidupan masyarakat, yang selama abad XIX, orang-orang Eropa banyak melakukannya melalui upaya-upaya intlektual, diplomatis, dan politis dalam mengelaborasi kriteria yang di terapkan pada masyarakat non Eropa yang dapat mereka anggap sebagai masyarakat yang telah berperadaban dan mereka terima sebagai bagian sistem yang mendunia dalam tatanan masyarakat Eropa. Tentu saja tolak ukur yang di maksudkan di sini adalah sistem nilai kehidupan yang di perlakukan olah peradaban yang bersangkutan.
2.1.7.   Lahinya Peradaban Islam
          Dengan perspektif definisi yang ada kita dapat menyaksikan, bagaimana kelahiran peradaban islam yang berawal dari “satu titik,” kemudian berkembang pesat, mempengaruhi pola fikir, wacana, prilaku dan akhlaq masyarakat dan mencapai puncaknya dengan madinah sebagai pusatnya. Awalnya adalah kehadiran Rasulullah SAW. Setelah beliau menerima wahyu pertama kali di Gua Hira’ yakni Al alaq: 1-5, kemuian dari seorang diri itu menyebar ke rumah tangga beliau, dengan titik tekan keyakinan yang sama, tawhid. Ada suatu proses internalisasi yang kuat dalam diri beliau terhadap ayat-ayat yang turun tersebut, hal ini memberikan efek langsung secara fisik, karena adanya hentakan spritual yang besar yang beliau alami. Ketika internalisasi keyakinan itu cukup dan ketenangan kembali telah di peroleh maka keyakinan yang sama kemudian di transmisikan, di sertai dengan peningkatan spritualitas dan aktivitas intlektual dalam pembelajaran di rumah Arqam bi Arqam.
            Selama 13 tahun periode Mekkah, para sahabat itu telah mengalami pencerahan, menjadi pribadi-pribadi dengan integritas spritual, intlektual dan akhlaq yang tinggi. Ciri-cirinya terletak pada nilai-nilai dan etika hidupnya, dan perbedaanya dengan nilai-nilai hidup peradaban lain, sebagaimana tercermin dalm surah Al Qalam, integritas personalnya seperti tercermin pada Al Muzzammil dan tanggung jawab kemanusiaan seperti Al Muddatstsir. Surah Al Qalam yang di yakini turunya setelah Al Alaq, menyajikan ayat-ayat yang berkenaan dengan sistem nilai kehidupan dan pertarungan antara peradaban yang berbasis dari orientasi yang berbeda serta prediksi-prediksi sejarah ummat manusia ke depan, dimana yang menganut islam pastilah yang memiliki keunggulan sejarah.
Pertentangan pola hidup dan nilai-nilai antara Rasulullah SAW bersama sahabat dengan masyarakat Arab jahiliyah adalah fenomina pertentangan yang pasti akan terjadi. Karena antara kebenaran dengan kebathilan di manapun dan kapanpun juga, tidak akan pernah saling bertoleransi. Jika ada cahaya maka kegelapan akan lenyap dan tanpa cahaya maka kegelapan (kejahatan, kebohongan dan ke zdaliman) akan merajalela. Namun jika cahaya kebenaran telah datang maka ke zdaliman akan lenyap dan tidak muncul kembali. Katakan: kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi. (Saba’, 34: 49 ).
            Peradaban islam lebih menekankan pada manusia, bagaimana cara membangunnya terutama dimensi esoteriknya, spiritual dan intlektual, dan bukan menekankan pada hal-hal yang bersifat fisik atau material. Karena itu, ketika syahadah telah di deklarasikan maka upaya-upaya selanjutnya, sebagaimana tercermin dalam surat-surat awal turunnya Al Qur’an, sepenuhnya di upayakan untuk membangun integritas manusia, dari asfala safilin menjadi ahsanu taqwim. Tentu saja untuk mencapai kondisi demikian, juga menggunakan prasyarat utama dalam diri manusia itu sendiri, sejauh manakah ia bersedia untuk menerima seruan dengan segala konsekwensinya dalam hidup, yakni dengan menjaga equiliberium kehidupan atau menjadi hamba yang tenang. Hai jiwa (diri) yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah kedalam surga-Ku. (Al Fajr,89: 27-30). Dalam hal ini intriorisasi ajaran islam pada masing-masing pribadi, apabila harus di rinci lebih lanjut, maka akan di tunjukkan citra yang lebih kurang merupakan transformasi atas diri manusia itu sendiri dari asfala safilin ke jenjang ahsanu taqwim. Tahap awal bagi seseoarang untuk melaju ke jenjang muttaqien, di dahului oleh keberanian untuk memutuskan sesuatu secara prinsip dalam kehidupan atau lebih tepatnya memutuskan untuk memilih prinsip kehidupan. Memutuskan ini meliputi keberanian melakukan perencanaan, pemilihan dan motivasi secara tuntas, dari kekacauan dan disentegritas hidup serta secara teologis mengacu kepada Tuhan. Apa yang dalam islam disebut syahadah, adalah sebuah proklamasi yang ternyatakan dari diri manusia dari keadaan semula yang tiada menuju keadaan yang ada.
2.1.8.   Struktur Peradaban
          Peradaban dapat di ibaratkan seperti manusia itu sendiri, memiliki struktur atau susunan seperti Bumi yang menunjukkan lapisan inti, imajinal (tengah) dan korpus atau kerak. Dalam peradaban, yang menjadi lapisan inti adalah keyakinan dasar, sedangkan lapisan imajinal merupakan wacana-wacana pemikiran yang di turunkan dari keyakinan atau sebaliknya, realitas-realitas kehidupan yang di tarik ke dalam, di simbolisasikan atau dianalisis dengan kerangka nilai peradaban yang bersangkutan. Sedangkan korpus, yang merupakan lapisan terluar dari peradaban adalah aspek-aspek kehidupan manusia itu sendiri.
            Jika seluruh aspek kehidupan manusia, seperti ekonomi, politik, hukum, seni, teknologi, sosial dan lain-lain dapat dianalogikan sebagai lapisan korpusnya, maka keyakinan adalah titik pusatnya. Bagaimana lingkaran itu akan terbentuk dan meluas, sangat tergantung pada intensitas pancaran titik pusatnya. Artinya, titik pusat atau lapisan inti peradaban yang merupakan keyakinan tersebut di wacanakan secara intensif, sehingga terbentuk kesadaran publik atau justru membentuknya.
            Islam adalah ajaran yang sempurna dan sekaligus kebenaran yang sempurna. Ajaran yang sempurna ini dapat di ibaratkan seperti Matahari, yang memiliki sifat intrinsik, yakni memancarkan cahaya, memberikan kehangatan, energi dan kehidupan. Karena itu siapapun yang bisa menangkap dan merasakan cahaya kebenaran ini, maka dari jati dirinya yang terdalam juga akan berkembang sifat ekspansif, yakni mewartakan kebenaran ini kepada setiap orang yang di temuinya dan di ajaknya bersama-sama untuk memasuki cahaya kebenaran yang sama. Sebaliknya orang-orang yang tercerahkan ini akan segera menolak nilai-nilai kehidupan yang bertentangan dengan ajaran yang di milikinya, misalnya materialisme.
            Aspek kehidupan lain yang perlu di simak adalah konsep atau pradigma pendidikan, yang tentunya di sandarkan atas pandangan-pandangan filosofis tantang manusia. Hal ini sebagai sesuatu yang wajar, mengingat pendidikan memiliki concern utama terhadap manusia, khususnya anak didik. Tanpa adanya asumsi-asumsi atau pandangan filosofis tentang manusia, sebuah konsep yang berfungsi untuk perekayasaan potensi manusiawi tidak bisa di bangun.
                Sejak awal kelahiran islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana sudah di ketahui, bahwa Nabi Muhammad SAW. Ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat yang terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab pada masa itu. Kemudian islam datang menawarkan cahaya penerang yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang berilmu dan beradab. Pandangan islam tentang pentingnya ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya islam itu sendiri. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama, yang mula-mula di perintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai Nabi menerima wahyu tersebut.